Rizki Pristiwanto Rizki Pristiwanto Author
Title: Pekan Literasik Situbondo, Menghidupkan Lilin Dalam Kegelapan
Author: Rizki Pristiwanto
Rating 5 of 5 Des:
Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 15-16 maret 2017 sebuah komunitas yang menamakan dirinya Gerakan Situbondo Membaca (GSM) dan Komunita...
Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 15-16 maret 2017 sebuah komunitas yang menamakan dirinya Gerakan Situbondo Membaca (GSM) dan Komunitas Penulis Muda Situbondo (KPMS), menggelar pekan literasi di kantor Perpustakaan dan arsip daerah Situbondo. Sebuah kegiatan yang benar-benar dapat memantik minat baca dan tulis bagi masyarakat Situbondo, yang digagas oleh anak-anak muda yang penuh ide dan kreasi.

Uniknya kegiatan yang bertempat di kantor milik Pemerintah daerah ini diselenggarakan dengan cara swadaya patungan ala komunitas dan pastinya NON-APBD. Minim ide-ide kreatif dalam mendorong minat baca Situbondo. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah tak ubahnya sebagai dinas yang minim anggaran, menjadi dinas kering dan kering pula ide serta inovasinya.

Soal minat baca, Indonesia cukup memperihatinkan. Ada sebuah penelitian Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 yang menempatkan Indonesia diperingkat ke-60 dari 61 objek negara yang diteliti. Dan dari segi infrastruktur Indonesia berada di posisi ke-35, lebih baik dari Korea selatan dan Jerman yang tingkat minat bacanya lebih baik dari kita. Artinya baiknya infrastruktur seperti banyaknya perpustakaan, buku, mobil baca keliling dan lain-lain, tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat minat baca. Karena dari itu pemerintah Situbondo seharusnya dapat berkaca kepada gigihnya teman-teman aktivis literasi ini, serta riset yang telah dilakukan oleh universitas ternama di dunia tersebut. Jika Indonesia benar-benar terpuruk diposisi ke-60 dari 61 negara di dunia, maka Situbondo berada diposisi ke berapa dalam skala nasional, jika harus dibandingkan dengan kabupaten/kota seperti Jogja, Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Jember dan lain-lain?

Ribut-ribut Jalan lingkar utara dan lain-lain hanya menjemukan telinga rakyat, dimana pemerintah seolah-olah hanya sibuk membangun fisik, tapi mengesampingkan membangun manusianya. Oleh karena itu paradigma harus dirubah, dari sekedar berlomba mempermegah perpustakaan, tetapi menuju gerakan membangkitkan budaya baca. Kearifan dalam mengelola anggaran sangat menentukan, harus difokuskan kepada kegiatan yang lebih efektif dalam membakar minat baca. Kita ambil contoh ada paket kegiatan membangun gedung aula pada Dinas perpustakaan dan Arsip Daerah ini senilai 800 juta lebih, padahal dua tahun terakhir telah bersolek dengan membangun gedung, lantas dampaknya terhadap minat baca apa sudah terasa?. Jika saja 20 persen saja dari anggaran diatas dialihkan untuk kegiatan seminar, bedah buku, sosialisasi minat baca di tiap-tiap kecamatan dan lain-lain mungkin akan lebih menyentuh langsung kepada masyarakat, dan dampaknya lebih terasa. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat pancasila dimana tanggung-jawabnya diemban oleh pemerintah dan masyarakat.

Untuk apa membaca? Baukankah membaca tak membuat kita nampak lebih keren dari mereka yang tidak membaca? Mungkin, tapi membaca, dan menulis, adalah kehormatan terakhir sebagai manusia.

Penulis: Jaringan Pemuda Demokrasi Situbondo

About Author

Advertisement

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar/tanggapan Anda mengenai info ini. semoga bermanfaat. Salam Ceka'e Ate :)

 
Top